Tampilkan postingan dengan label nama bunga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label nama bunga. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 Februari 2011

Perbedaan Bunga Rafflesia dan Bunga Bangkai

Bunga Rafflesia
Rafflesia arnoldii dan Bunga Bangkai (Amorphpophallus titanium) merupakan dua jenis tanaman yang berbeda. Meski oleh masyarakat terkadang kedua jenis tanaman ini dianggap sama bahkan saling tertukar. Saya sendiri sempat mendengar seorang guru Sekolah Dasar yang mengatakan di depan murid-muridnya bahwa bunga Bangkai adalah Rafflesia.

Memang Rafflesia dan Bunga Bangkai (Suweg Raksasa) sama-sama memiliki ukuran besar (raksasa) dan mengeluarkan bau yang busuk. Namun antara Raflesia dan Bungan Bangkai (Amorphpophallus titanium) memiliki perbedaan pada klasifikasi biologi, bentuk, warna, cara hidupnya, dan siklus hidupnya.

Senin, 14 Februari 2011

Bunga Anggrek Hartinah

Bunga Anggrek Hartinah
Bunga Anggrek Hartinah atau Anggrek Tien Soeharto (Cymbidium hartinahianum) merupakan salah satu jenis tumbuhan anggrek yang endemik (hanya tumbuh di daerah tertentu) Sumater Utara, Indonesia. Jenis anggrek yang diketemukan pertama kali pada tahun 1976 ini bisa diketemukan di Desa Baniara Tele Kecamatan Harian Kabupaten Samosir, Sumatera Utara. Anggrek Tien Soeharto atau sering disebut juga sebagai Anggrek Hartinah (Cymbidium hartinahianum) merupakan anggrek tanah yang hidup merumpun.

Anggrek Tien Soeharto ini mengingatkan saya akan komentar Pakde Cholik, pemilik blog abdulcholik.com dalam postingan Alamendah Blog yang berjudul Perbedaan Rafflesia Arnoldii dan Bunga Bangkai. Terlontarlah sebuah pertanyaan; “…Apakah ada bunga atau tumbuhan yang namanya diambil dari nama orang Indonesia ?…”. Sebuah pertanyaan yang terlahir dari keresahan akan sederet penemuan satwa dan flora Indonesia yang banyak dilakukan oleh peneliti asing sedangkan peneliti bangsa sendiri terkesan lebih sukan di balik meja. Sehingga berbagai tanaman Indonesia pun mempunyai nama asing.

Jumat, 04 Februari 2011

Semerbak Harum di Taman Bunga (3/4)

Edelweiss, Gladiolus, Anggrek

Siapa yang tak kenal keluarga Von Trapp dari Austria? Masyarakat dunia berkenalan dengan keluarga ini melalui film istimewa pemenang hadiah Oscar, The Sound of Music. Pada tahun 1970-an, ketika film itu diputar di sejumlah bioskop di kota Bandung, banyak orang yang menontonnya sampai beberapa kali. Sekarang, video dan DVD-nya merupakan salah satu film yang paling banyak peminatnya di seluruh dunia. Dalam film berdurasi sekitar 3 jam ini, banyak lagu indah didendangkan – salah satu di antaranya Edelweiss. Masih ingatkah Anda ketika Julie Andrews, si pengasuh anak, berdiri terpesona mengagumi tuannya, Baron Von Trapp, yang diperankan Christopher Plummer, yang dengan penuh perasaan menyanyikan lagu Edelweiss? Bunga kecil yang banyak tumbuh di Pegunungan Alpen ini mendapatkan namanya dari gabungan dua kata Jerman: edel yang berarti mulia, dan weiss yang berarti putih atau suci. Memang Edelweiss dikenal sebagai lambang kesucian, khususnya di negara seperti Swiss dan Austria.

Jumat, 28 Januari 2011

Semerbak Harum di Taman Bunga (2/4)

Bunga Terbesar dan “Terharum”

Bangsa Indonesia boleh berbangga karena begitu banyaknya spesies tanaman berbunga yang tumbuh di tanah tercinta ini. Bahkan, kabarnya Indonesia memiliki jenis anggrek terbanyak di dunia, yang masih belum seluruhnya teridentifikasi di belantara hutan Kalimantan dan Sumatera.

Salah satu kartupos bergambar khas Indonesia yang banyak beredar di toko buku adalah gambar bunga Rafflesia arnoldi. Sebuah buku terbitan Indonesia yang sampulnya menggunakan gambar bunga ini telah menarik perhatian sejumlah pengunjung Pameran Buku Internasional 1995 di Tokyo. Saya bersama Ibu Aida Joesoef dari Ikapi yang bertugas saat itu, dengan bangga menceritakan kekhasan bunga terbesar itu (padahal kami belum pernah melihat bunga itu dengan mata kepala sendiri!). Nama bunga ini kabarnya berasal dari Stamford Raffles (1781–1826), penguasa berkebangsaan Inggris yang pernah menduduki Indonesia di masa lalu.

Bunga lain asal Indonesia yang tak kalah menariknya adalah bunga yang konon amat “harum” alias bunga bangkai. Tanaman yang berbunga sekali dalam waktu 1-3 tahun ini ditemukan di Sumatera pada tahun 1868, bernama Latin Amormophallus titanum.

Kamis, 27 Januari 2011

Semerbak Harum di Taman Bunga (1/4)

Katakanlah dengan bunga. Demikian kata pepatah, yang di masa lalu pernah dipermasalahkan sebagian orang di beberapa kota besar Indonesia. Kala itu ada anjuran agar ucapan selamat tidak lagi disampaikan dengan mengirim karangan bunga, melainkan dengan cara lain, biasanya sumbangan berupa uang. Cara ini dianggap lebih bermanfaat karena bukankah bunga kiriman pada akhirnya dibuang dan menjadi sampah? Tetapi, tentu saja mereka yang mencari nafkah dengan mengandalkan bunga menjadi uring-uringan. Rezeki mereka terpangkas oleh kebijakan yang dilatarbelakangi oleh niat mengurangi sampah itu. Padahal, kalau dipikir-pikir, sampah bunga yang bersifat organik ini sangat mudah hancur, dan dipastikan tidak mencemari lingkungan. Marilah pembaca, kita berjalan-jalan di taman bunga khayal dan membalik-balik kisah di balik beberapa nama bunga dan tanaman.

Lebih dari 40 tahun yang silam, ketika pertama kali melangkahkan kaki masuk ke kampus Ganesha sebagai mahasiswa baru, saya disambut dengan bunga Air Mata Pengantin. Nama yang puitis bukan? Sampai sekarang, bunga berwarna merah muda itu, yang bentuknya bak tetesan air mata, masih tetap setia menyambut warga dan para tamu ITB di pintu gerbangnya yang khas.